Kamis, 20 Oktober 2011

Indonesia, Negara Terbaik untuk Bisnis?

Majalah Forbes menempatkan Kanada sebagai negara terbaik untuk bisnis mengalahkan Amerika Serikat yang lumpuh oleh kekuatan resesi double dip, dan Eropa yang tengah berjuang mengatasi masalah utang.

PDB Kanada tercatat US$1,6 triliun, terbesar kesembilan di dunia. Ekonomi ini tumbuh 3,1 persen pada tahun lalu, dan tahun ini diperkirakan masih tumbuh 2,4 persen.

Forbes, edisi Senin 3 Oktober 2011, melaporkan Kanada berhasil tumbuh di tengah krisis perbankan yang melanda AS dan Eropa. Royal Bank of Canada, Bank of Nova Scotia dan Bank of Montreal tak butuh dana talangan. Bank itu malah untung selama krisis pada 2007. Resepnya, tetap setia pada praktik konservatif pinjaman mereka.

Kanada bergerak naik dari peringkat keempat tahun lalu berkat memperbaiki standing pajak. Struktur kredit pajak direformasi dengan melaraskan Pajak Penjualan di Ontario dan British Columbia pada 2010. Tujuannya membuat bisnis di Kanada lebih kompetitif. Status pajak Kanada juga meningkat, karena tarif pajak perusahaan dan karyawan diturunkan.

Kanada sesungguhnya bersandar pada ekonomi Amerika Serikat. Negara itu pemasok minyak terbesar untuk AS, dengan tiga-perempat tujuan ekspor. Meski pengangguran AS telah berada di atas 9 persen, di Kanada hanya 7,3 persen. Tingkat pengangguran ini juga lebih kecil dibandingkan zona euro, 10 persen.

Selain masalah pajak, Forbes juga mempertimbangkan faktor lain di 134 negara. Antara lain, soal hak milik, inovasi, teknologi, korupsi, kebebasan (pribadi, perdagangan, dan moneter), perlindungan investor, dan kinerja pasar saham.

Asia Tenggara
Di Asia Tenggara, Singapura rupanya tak tergoyahkan. Negeri itu adalah terbaik di kawasan. Pada 2010 lalu, Negeri Singa itu tumbuh 14,5 persen, dan memiliki pendapatan per kapita US$62.600. Secara keseluruhan, Singapura menempati posisi ke enam setelah Kanada, Selandia Baru, Hong Kong, Irlandia, dan Denmark.

Singapura memiliki ekonomi pasar bebas sangat maju dan sukses. "Ia sangat terbuka dan bebas korupsi, harga stabil, dan PDB per kapita lebih tinggi dari sebagian besar negara maju," tulis laporan Forbes.

Ekonomi Singapura sangat tergantung pada ekspor, terutama barang elektronik, produk-produk teknologi informasi, dan farmasi. Sektor jasa keuangan juga tumbuh cepat. Pertumbuhan PDB riil rata-rata 7,1 persen antara 2004 hingga 2007. Pertumbuhan ekonomi 2009 hanya 1,3 persen sebagai akibat krisis keuangan global, namun rebound hampir 14,7 persen pada 2010.

"Singapura telah menarik investasi besar dalam produksi farmasi, dan teknologi medis. Mereka akan melanjutkan upaya mendirikan Singapura sebagai pusat keuangan Asia Tenggara dan teknologi tinggi."

Pencapaian itu tampaknya akan disusul oleh Malaysia, negara tetangga yang bertengger di peringkat ke 34. Pertumbuhan ekonomi Malaysia 7,2 persen, dan pendapatan per kapita US$14.700. Negara berpenghasilan menengah ini telah mengubah dirinya sejak 1970 dari produsen bahan mentah menjadi ekonomi multi sektor.

Di bawah Perdana Menteri Najib saat ini, Malaysia ingin mencapai status berpenghasilan tinggi pada 2020. Negeri itu juga terus bergerak dengan memberi nilai tambah yang menarik investasi di bidang keuangan Islam, industri teknologi tinggi, bioteknologi, dan jasa.

Pemerintahan Najib juga melanjutkan upaya meningkatkan permintaan domestik, dan mengurangi ketergantungan ekonomi pada ekspor. Namun demikian, ekspor --khususnya elektronik, minyak dan gas, kelapa sawit, dan karet-- tetap menjadi penggerak signifikan pada perekonomian.
Sebagai pengekspor minyak dan gas, Malaysia memiliki keuntungan dari harga energi dunia lebih tinggi. Meski demikian, meningkatnya biaya bensin dan solar dalam negeri memaksa pemerintah memotong subsidi bahan bakar.

"Pemerintah juga berusaha mengurangi ketergantungan pada produsen minyak negara Petronas, yang memasok lebih dari 40 persen dari pendapatan pemerintah," tulis keterangan itu.

Thailand menempati posisi ke 66. Dengan infrastruktur dikembangkan, perekonomian bebas, kebijakan pro-investasi, dan industri ekspor yang kuat, Thailand menikmati pertumbuhan solid 2000-2007, rata-rata lebih 4 persen per tahun, sejak pulih dari krisis keuangan Asia 1997-1998.

Ekspor Thailand sebagian besar mesin dan komponen elektronik, komoditas pertanian, dan perhiasan, terus mendorong perekonomian. Krisis keuangan global 2008-2009 sangat mengurangi ekspor Thailand. Pada 2009, perekonomian mengalami kontraksi 2,2 persen. Pada 2010, ekonomi Thailand tumbuh 7,6 persen, laju tercepat sejak 1995, karena ekspor rebound dari tingkat depresi 2009.

Protes antipemerintah selama Maret-Mei berdampak sementara pada kepercayaan bisnis. Sektor pariwisata terpukul keras selama protes berlangsung. Namun, pemulihan cepat membantu meningkatkan kepercayaan. Pasar saham Thailand tumbuh hampir 5 persen selama periode tiga-bulan pertama tahun ini. "Perekonomian Thailand mungkin akan terus tumbuh dengan baik pada 2011."

Bagaimana Indonesia?
Indonesia menduduki peringkat ke 75 dari 134 negara tujuan bisnis terbaik. Indonesia berhasil lolos dari krisis keuangan global karena ketergantungan pada konsumsi domestik sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi. Investasi yang meningkat, baik oleh investor lokal maupun asing, juga mendukung pertumbuhan solid ekonomi Indonesia.

Pada 2009, pertumbuhan ekonomi RI hanya 4,5 persen, jauh lebih rendah dari rata-rata 6 persen sejak krisis 2008. Tapi pada 2010 pertumbuhan kembali ke tingkat 6 persen.
Selama resesi, Indonesia mampu melewati para tetangga di kawasan Asia Tenggara. Pemerintahan Yudhoyono membuat kemajuan ekonomi dengan memperkenalkan reformasi signifikan di sektor keuangan, termasuk pajak, bea cukai, dan penggunaan superivisi pada lembaga keuangan dan pasar modal.

Rasio utang atas PDB dalam beberapa tahun terakhir terus menurun. Pertumbuhan PDB kian kuat, juga adanya penata layanan fiskal yang sehat. Kondisi ini membuat dua dari tiga lembaga kredit terkemuka meng-upgrade peringkat kredit utang Indonesia satu level di bawah investment grade.

"Sayangnya Indonesia masih berjuang dengan kemiskinan dan pengangguran, korupsi, infrastruktur, peraturan lingkungan yang kompleks, serta distribusi sumber daya yang tidak merata," tulis Forbes.

Ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti menyatakan, jatuhnya peringkat ini banyak disebabkan faktor-faktor non-ekonomi, seperti pemberantasan korupsi, infrastruktur, sumber daya manusia, dan soal perizinan. Padahal bila melihat kondisi perekonomian Indonesia, justru sangat baik. "Inflasi terjaga, pertumbuhan ekonomi baik, dan pendapatan perkapita juga naik," kata Destry.

Itu sebabnya, kata Destry, tak perlu risau soal peringkat ini. "Memang harus dipikirkan jalan keluarnya. Tetapi jangan membuat kita minder", ujarnya. "Kalau Malaysia bisa, kenapa kita tidak?"
Vivanews

Peringkat Kemudahan Bisnis RI Melorot Lagi

Peringkat kemudahan berbisnis Indonesia melorot tiga peringkat, dari posisi 123 menjadi 126. Walau turun, peringkat Indonesia masih lebih baik dibandingkan India di posisi 132 dan Filipina 136.

Pemeringkatan kemudahan berbisnis itu diketahui dari Laporan Doing Business 2012: Doing Business in More Transparent World yang dikeluarkan IFC dan Bank Dunia hari ini.

Dalam laporan tersebut, peringkat kemudahan berbisnis Indonesia berada jauh dibelakang jika dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara, . Selain Singapura, negara Asia Tenggara yang memberikan kemudahan dalam berbisnis adalah Thailand di posisi 17, Malaysia 18, dan Bruneri Darussalam 86.

Bahkan posisi Indonesia masih kalah dibandingkan Vietnam yang berada di posisi 98 dan Papua New Guinea 101.

Bank Dunia dalam keterangan tertulis yang diperoleh VIVAnews, Kamis, 20 Oktober 2011 menyebutkan, untuk wilayah Asia Timur dan Pasifik, Singapura dan Hongkong masih mejadi negara yang memberikan iklim kebijakan investasi terbaik bagi entrepreneur lokal.

Bahkan China tercatat menjadi negara dengan iklim berbisnis paling ramah selama enam tahun berturut-turut.

Laporan Doing Business 2012 yang dikeluarkan Bank Dunia ini menganalisa kebijakan yang berpengaruh pada ekonomi domestik di 183 negara dan diurutkan ke dalam 10 kelompok peraturan bisnis seperti memulai bisnis, penyelesaian ketidakmampuan membayar, serta perdagangan antar wilayah.

Dalam pemeringkatan kali ini, Singapura masih bercokol sebagai negara yang paling mudah menjalankan bisnis selama enam tahun berturut-turut. Sementara Hongkong yang berada di posisi kedua dianggap berhasil menjalankan mekanisme sistem pendaftaran perusahaan secara online dan kemudahan memperoleh pasokan sumber listrik.

Sebanyak 24 negara di kawasan ekonomi Asia Timur dan Pasifik mencatat peningkatan dalam hal kebijakan bisnis dibandingkan tahun sebelumnya. Kepulauan Salomo, Tonga, dan Malaysia diketahui mencatat perbaikan di tiga hal dalam penilaian kemudahan menjalankan bisnis.

Lebih Bersahabat
Posisi Malaysia tercatat naik 5 tingkat ke posisi 18 dengan keputusannya melakukan reformasi peraturan termasuk didalamnya kebijakan one stop shop dalam memulai bisnis dan lingkungan komersial yang terkomputerisasi.

"Penggunaan teknologi informasi yang efektif mempermudah bisnis bagi kalangan entrepreneur," kata penulis utama laporan, Sylvia Solf.

Bank Dunia juga mencatat selama enam tahun terakhir, sebanyak 22 negara di Asia Timur dan Pasifik telah membuat iklim investasi yang lebih bersahabat.

"Dengan kebijakan bisnis yang lebih transparan dan efektif akan meningkatkan kesempatan pertumbuhan ekonomi," kata Director, Global Indicators and Analysis, World Bank Group, Augusto Lopez-Claros.

Menurut Augusto, di Asia Timur dan Pasifik, keuntungan berbisnis di kawasan ini diuntungkan oleh wilayah yang luas dan reformasi kebijakan yang berkelanjutan.

Sepuluh Negara Paling Gampang Berbisnis
Bank Dunia dan anak usahanya, IFC, hari ini kembali mengeluarkan peringkat 183 negara dalam hal kemudahan untuk menjalankan bisnis.

Pemeringkatan kemudahan berbisnis itu diketahui dari Laporan Doing Business 2012: Doing Business in More Transparent World yang dikeluarkan IFC dan Bank Dunia hari ini.

Laporan ini menganalisa kebijakan yang berpengaruh pada ekonomi domestik di 183 negara dan diurutkan ke dalam 10 kelompok peraturan bisnis seperti memulai bisnis, penyelesaian ketidakmampuan membayar, serta perdagangan antar wilayah.

Bank Dunia dan IFC menyusun laporan berdasarkan data peraturan yang diterbitkan sejak Juni 2010 hingga Mei 2011. Pemeringkatan kali ini juga diperluas dengan menambahkan faktor kemudahan memperoleh listrik.

"Disaat pengangguran dan kebutuhan akan penciptaan lapangan kerja menjadi hal utama, pemerintah di berbagai dunia terus berupaya mencari jalan membangun iklim kebijakan bagi ekonomi domestik," ujar Director Global Indicators and Analysis, World Bank Group, Augusto Lopez-Claros dalam keterangan tertulis yang diperoleh VIVAnews, Kamis, 20 Oktober 2011.

Bank dunia dalam laporannya menyebutkan disaat krisis ekonomi dan keuangan melanda dunia, kini lebih banyak negara memperkuat perekonomiannya selama periode 2010-2011 dibandingkan periode-periode sebelumnya.

Sebanyak 29 negara kini telah mempraktikan reformasi ketidakmampuan membayar utang, naik dari sebelumnya 16 negara dan 18 negara. Sebagian besar reformasi ini terjadi di kawasan Eropa Timur dan Asia Tengah atau wilayah ekonomi maju yang merupakan bagian dari organisasi Economic Co-operation and Development (OECD).

Di wilayah dengan pendapatan rendah sampai menengah, lebih dari 40 persen reformasi kebijakan telah mengalami peningkatan. Reformasi itu terjadi di sektor pengadilan, agen kredit.

Laporan Doing Business 2012 jutga menemukan peningkatan akses terhadap informasi kebijakan bisnis telah mendukung tumbuhnya entrepreneur. Jadwal dan persyaratan dokumen secara gratis merupakan hal yang paling mudah diakses oleh anggota OECD.

Inilah peringkat 10 besar negara paling mudah menjalankan bisnis

1. Singapura
2. Hong Kong
3. Selandia Baru
4. Amerika Serikat
5. Denmark
6. Norwegia
7. Inggris
8. Korea Selatan
9. Islandia
10. Irlandia

Diantara jajaran negara-negara yang masuk dalam 10 besar dunia, Korea Selaran untuk pertama kalinya masuk dalam daftar tersebut. Pada Doing Business 2011, Negara Gingseng ini berada di posisi ke 15.

Sementara Inggris dan Irlandia merupakan dua negara yang mengalami penurunan peringkat dibandingkan posisi setahun sebelumnya.
Vivanews